Lingkaran Setan Ekonomi, Stunting, dan Pendidikan


 

Lingkaran Setan Ekonomi, Stunting, dan Pendidikan

Oleh Dzaky Abdur Rafi

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

            Kekurangan gizi dalam waktu yang lama pada 1000 hari pertama kehidupannya dari janin sampai anak berusia dua tahun penyebab alasan timbulnya Stunting.

            Perkembangan otak dan fisik pada balita stunting menjadi terhambat, mereka rentan terhadap penyakit. Akibatnya anak stunting cenderung sulit berprestasi. Ketika dewasa anak stunting mudah mengalami kegemukan. Sehingga beresiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya.

·         Lalu kita tarik Urgensi Indonesia terhadap Stunting ?

Bahaya Stunting mengancam anak-anak bangsa Indonesia, hampir 9 juta anak-anak atau lebih dari sepertiga balita Indonesia mengalami Stunting. Informasi ini diambil dari Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019.

·         Hubungan Stunting dengan Ekonomi ?

            Sebelum masuk pada pembahasan itu perlu kiranya dipaparkan sebuah fakta, bahwasanhya di Asia Tenggara hanya Laos, Kamboja, dan Timor Leste yang memiliki angka stunting lebih tinggi dari Indonesia.

            Jika anda perhatikan baik-baik, ketiga negara yang melebihi Indonesia dalam perolehan angka stunting yang tinggi termasuk kedalam 10 Negara termiskin di Asia yang diantaranya terdapat Laos, Kamboja, dan Timor Leste.

            Lalu hubungannya dengan Stunting ?, hal ini tentu berhubungan karena stunting masalah soal pemenuhan gizi yang baik. Gizi yang baik didapatkan dari sebuah makanan yang baik. Makan-makanan yang baik itu dibeli dari uang, jangan salah minuman mineral saja bayar apalagi susu bayi dan makanan bergizi lainnya dengan harga yg tidak murah.

            Jika melihat perhitungan BPS (Badan Pusat Statistik) pada Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, negara ini memiliki 27,54 juta penduduk miskin. Sebanyak 27,54 juta pula kita tidak bisa menjamin sebuah pemenuhan gizi pada rakyat.

            Ini bukan masalah mengenai Tenaga kesehatan Promosi kesehatan yg bertugas untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan mendidik masyarakat. Jika memang perilaku menjadi faktor satu-satunya masyarakat berperlaku tidak sehat lantas mengapa masih banyak yg sakit ?.

            Memang jika Virus dan Bakteri itu bertebaran dimana-mana dan bisa menimbulkan penyakit jika imun tidak kuat. Namun, imun yang kuat pun dibentuk dari pemenuhan gizi yang baik.

            Jadi jika Promosi Kesehatan bertindak pun, harus dibarengi dengan pemenuhan ekonomi pada rakyat miskin.

·         Penyebab Kemiskinan di Indonesia

1.    Utang Negara yang menumpuk

Bersumber pada Bank Indonesia (www.bi.go.id) Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan III 2021 tercatat sebesar 423,1 miliar dollar US. Itu setara dengan 6.076.818,00  IDR.

      Bagaimana cara pemerintah mengatasi hal ini dengan dua hal yakni :

a.    Investasi asing

b.    Pengambilan Pajak pada Masyarakat

2.    Kurangnya Lapangan Pekerjaan

Mengatasi penyebab utama kemiskinan dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan akses modal usaha dinilai sebagai kunci pemberantasan kemiskinan baik dikota maupun didesa.

      Menyangkut dengan Point Investasi asing, Investasi berarti sebuat penempatan modal pada benda, Lembaga, dan lainnya. Dikarenakan ini sebagai kasus negara tentu penempatan modal pada Negara.

Penanam Investasi berkesempatan untuk membuka lahan pekerjaan di Indonesia dengan membawa TKA (Tenaga Kerja Asing) dari Negaranya, sehingga bukan hanya saingan dalam negara saja untuk mendapatkan suatu pekerjaan melainkan juga dari luar negeri.

Klasifikasi pekerjaan pun meningkat dengan kriteria-kriteria tertentu, sehingga Masyarakat miskin yang tidak memiliki spesifikasi tersisih dan tidak mendapat suatu pekerjaan.

3.    Tingkat Pendidikan dan Pembangunan yang tidak merata

Pada era Presiden Jokowi pembangunan infrastruktur sedang gencar-gencar dikerjakan. Dengan pembangunan yang baik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

      Akan tetapi jika Pembangunan hanya berkutat pada kota-kota maju itu percuma, karena Pendidikan yang baik hanya akan terlahir disana.

      Dampaknya adalah terjadinya Urbanisasi, Masyarakat desa banyak pindah ke kota. Kota menjadi sangat padat dan kurangnya pemenuhan kebutuhan penduduk di desa.

      Sekarang kita bahas Pendidikan, Pendidikan yang baik akan menghasilkan kualifikasi pekerja yang baik sehingga negara tidak perlu risau dengan persaingan dengan Tenaga kerja asing maupun dalam negeri. Lapang pekerjaan pun kemungkinan besar akan didapatkan.

      Namun, dengan infrastruktur yang timpang maka akan menghasilkan kualifikasi pekerja yg baik di kota saja. Infrastruktur yg buruk di pinggiran tidak akan merubah kualitas kualifikasi disana. Sehingga tentu banyak lahir masyarakat miskin disana.

      Karena sebuah Pendidikan lah yang dapat membantu menaikkan ekonomi negara, maka perlu kiranya pemerintah menyadari hal ini.

4.    Pandemi Covid-19

Tidak adanya perputaran ekonomi pada saat Covid-19, menyebabkan banyak lapangan kerja hancur. Bahkan, Kementerian PPN/Bappenas menyebut, akibat pandemi Covid-19 ada 26 persen tulang punggung keluarga yang berhenti bekerja dan 50 persen mengalami penurunan pendapatan.

      Dengan fakta ini jelas menunjukkan kenaikan angka Kemiskinan yang signifikan.

·         Pendidikan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian Pendidikan

adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Atau bahkan Pendidikan juga dapat diartikan  sebagai proses, cara dan perbuatan mendidik.

Dengan Pendidikan maka banyak sektor yang teratasi terutama Ekonomi dan Kesehatan. Ilmu menjadi bekal dan pedoman orang dalam mengambik sebuah tindakan.

Tindakan dan perilaku yang baik akan berpengaruh pada kesehatan karena masyarakat tau apa yg menyebabkan sakit dan akan mengambil sebuat alternative untuk mencegah hal itu.

Banyak lapangan kerja yang terisi oleh orang berpendidikan dengan bergitu angka ekonomi menjadi naik. Seharusnya dengan seperti ini masyarakat sadar untuk pemanfaatan Pendidikan disegala tempat. Dan infrastruktur difokuskan untuk meningkatkan Pendidikan disegala penjuru bahkan pelosok Indonesia.

·         Kaitan Stunting dengan Kemiskinan dan Pendidikan

Masuk kembali pada pembahasan Stunting, kini kita sudah mengetahui bahwa Stunting berkaitan erat dengan kemiskinan dan Pendidikan. Bersumber pada Berita satu.com mengenai darurat stunting  Kelak di Usia Produktifnya anak stunting berpenghasilan 20% lebih rendah daripada mereka yang tumbuh optimal tentu karena ini menyangkut kecerdasan.

            Stunting juga dapat menurunkan produk Domestik Bruto Negara sebesar 3%. Bruto negara adalah alat pengukur perkembangan ekonomi pada suatu negara. Mengapa bisa turun karena Stunting berpengaruh pada perkembangan otak dan fisik. Akibatnya anak stunting cenderung sulit berprestasi.

            Prestasi ini berkaitan dengan Pendidikan, dengan tidak adanya Pendidikan akan kesulitan mencari lapangan kerja, dan tidak adanya lapangan kerja akan menyebabkan kemiskinan. Lingkungan yang miskin akan berpotensi menyebabkan stunting, anak stunting akan kesulitan berprestasi.

            Hal itu terus berulang-ulang, dan ini tentu berkaitan dengan Lingkaran Setan antara Kemiskinan, Stunting, dan Ekonomi yang penulis maksud.

·         Cara mengatasi Stunting dan Kemiskinan

a)    Stunting

Stunting bisa dicegah dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan. Dimulai dari janin sampai anak berusia dua tahun, hal ini bisa dicapai bila Ibu hamil makan-makanan yang bergizi seimbang.

            Mereka juga harus tinggal dilingkungan yang bersih dimana setiap orang menggunakan jamban sehat. Point penting pemenuhin gizi memerlukan uang, jadi faktor kemiskinan harus diatasi.

b)    Kemiskinan

1)    Menghindari untuk Berhutang;

2)    Pembangunan Infrastruktur yang Optimal terutama pada daerah-daerah pinggir dan desa;

3)    Pembukaan lapangan kerja bagi rakyat miskin;

4)    Penanganan Pandemi Covid-19 dengan baik;

5)    Pendidikan menjadi kunci utama memberantas Kemiskinan.

c)    Pendidikan

Jika dua point diatas teratasi dengan baik, maka Pendidikan menjadi Poros penting dan point penyelesaian dari semua permasalahan yang terjadi.

Mungkin hanya itu yang dapat penulis sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan karena kesempurnaan hanyalah milih Tuhan semata. Sekian, Saya Dzaky Abdur Rafi Pamit undur diri.


Komentar